POP equals LAME

Kd Kenapa menyukai sesuatu yang populer (POP) itu sering banget dicibir dengan hujatan "Damn, You’re so Lame!!!!"??

Saya pencinta pop, setidaknya jujur atas apa yang saya sukai, ngga sok Cutting Edge, padahal ngga ngerti kalau proses pembuatan album Nine Inch Nails yang berjudul With Teeth itu memakan waktu 10 tahun!!

Saya suka Peterpan, yang dihujat oleh sebagian besar kaum yang mengaku wawasan dan selera musiknya tinggi. Kaum ini selalu beralasan kalau Peterpan ngga bisa main musik!!! Kalau gitu logikanya begini deh;

Mungkin ngga ya, Band yang ngga bisa main musik berhasil menjual lebih dari 2 juta album original (not to mention yang bajakan), tampil Live sebanyak lebih dari 80 kali selama 1 tahun, dengan jumlah penonton yang selalu over capacity, meraih sedikitnya 5 penghargaan musik termasuk Anugerah Musik Indonesia, memecahkan rekor manggung di 6 kota dalam waktu 24 jam, membuat 6 videoklip dalam 1 album, dan digosipkan menghamili lebih dari 2 perempuan??? Eat that you indie freak!!!

Saya suka Krisdayanti yang juga dianggap aib oleh kaum tadi. Mereka beranggapan kalau Krisdayanti is so Lame!! Perempuan ini ngga lebih dari pesolek, yang kostum manggungnya norak abis, dandanannya berlebihan, lagunya chessy, dan cengeng!!

Saya suka KD karena saya realistis. Krisdayanti adalah manusia pertama yang pernah menjuarai Grand Champion Asia Bagus, dan dia juga mendapat penghargaan dari Asia Bagus sebagai lulusan Asia Bagus yang paling sukses. Krisdayanti sudah melakukan 2 kali konser tunggal dengan skala besar, dan tiketnya selalu sudah sold out 1 minggu sebelum konser. Baju, rambut, sampe dandanan Krisdayanti selalu jadi trendsetter. Lagu-lagu milik Krisdayanti adalah hits yang paling sering diputar di Radio dan Televisi. Dan tentunya bayaran KD sekali manggung bisa membiayai proses pembuatan album, pemasaran, distribusi, sampai pembuatan videoklip 2 musisi indie. Nah loh??

Saya tidak pernah menghina kaum Cutting Edge, dimana saya yakin pula artis pop juga tidak menghina musisi indie.. Tapi sebaliknya justru berkata lain.

Musisi indie yakin sekali bahwa musik mereka yang terbaik, yang paling jujur, dan idealis. Kalau saya berpendapat  hipotesis itu adalah pengakuan. Suatu hipotesis itu baru bisa dibilang benar atau tidak tergantung dari pengakuan masyarakat. Sebuah band, atau seorang musisi baru bisa dibilang bagus apabila mendapat pengakuan, yang terukur dari penjualan album atau jadwal manggung.

Ironisnya yang terjadi di kaum Cutting Edge, sebuah band indie atau musisi indie apabila sudah sukses dan laku mereka akan kembali dihujat dan dikeluarkan dari komunitas indie.

Kalau begitu;

"Cutting Edge akan selamanya jadi ujung kecil yang menghujat, dan Pop akan selamanya jadi bagian besar yang dihujat."

Dalam urusan Cinta saya lebih memilih yang Pop. Saya lebih suka perempuan cantik, dandan, murah senyum, dan terawat, ketimbang perempuan indie yang mandiri, mengaku punya sikap, berwajah cool, dan bau ketek…

Leave a Reply