Pumpkin, terimakasih atas pelajaran pengenalan dirinya..
Wednesday, May 2nd, 2007
Pernahkah
terpikir olehmu bagaimana kamu telah membuatku…
Terkejut
senang menerima balasan sms pertamamu,
Malas
keluar rumah demi menunggu dirimu muncul di depan komputerku,
Menghabiskan
7 jam sehariku untuk ngobrol denganmu mengenai hal-hal penting sampai
kurang penting, dan membuatku tersenyum seharian,
Bahagia
karena ternyata kita banyak kesamaan, dan aku menemukan banyak hal
menarik darimu,
Berangan-angan
tentangmu, apa rasanya menyentuh dirimu,
Terbuai
oleh kata-katamu yang menyemangati di hari-hari sepiku,
Merasa
begitu yakin kalau aku sudah menemukan belahan jiwaku,
Mengucapkan
hal-hal yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, seperti
”menikahlah denganku”,
Merencanakan
masa depan bersamamu,
Menjadi
yakin untuk pulang ke tanah air, serta melupakan kemungkinan untuk
meraih kesempatan kerja di luar negeri,
Terkulai
sedih setiap kali aku harus membatalkan kepulanganku karena
permasalahan beasiswa,
Bahagia
luar biasa pada saat pertama kali aku melihat matamu, dan senyummu
secara nyata,
Merasakan
kenyamanan bak di surga saat aku menyentuhmu,
Mengalami
kemacetan paling menyenangkan di Jakarta bersamamu,
Lega
setelah menciummu,
Bahagia
menghabiskan hari-hari indah bersamamu,
Tetap
semangat berusaha saat kau memintaku untuk bersabar,
Mulai
merasa tidak aman saat aku tahu kenyataan bahwa masih ada dia di
kehidupanmu,
Ingin
membantumu dengan ikhlas mengatasi permasalahan-permasalahanmu,
meskipun aku tak pernah mengerti apa masalahmu,
Mencoba
mengerti kehidupanmu yang cukup baru buatku,
Bertoleransi
dengan gaya hidupmu meskipun itu cukup menggangguku,
Melupakan
segala perbedaan dan menyesuaikan diriku untukmu karena aku sangat
mencintaimu,
Kecewa
saat aku pikir aku berhak mendapat perhatianmu, namun kamu tidak
mengerti kalau itu hal yang wajar untuk diminta oleh orang yang kamu
bilang sayang,
Berusaha
sabar dan mengalah, karena aku sangat mencintaimu,
Tidak
berani membahas atau menyelesaikan masalah dengan komunikasi karena
kamu tidak nyaman dengan pembicaraan itu,
Terus
berusaha mencarimu meskipun kamu tidak mencariku,
Mengubah
siklus hidupku demimu,
Sakit
hati dan menangis saat aku menemukan dirinya di kamarmu,
Menyalahkan
diriku sendiri atas kenyataan pahit yang harus aku terima,
Mulai
hilang arah, dan kehilangan kepercayaan diriku,
Mulai
tidak yakin kalau kamu memang sayang padaku seperti yang pernah kamu
bilang,
Berusaha
sekuat tenaga memperjuangkanmu sampai aku melupakan cita-citaku,
mimpi-mimpiku, kesehatan jiwaku, harga diriku…, karena kamu pantas
diperjuangkan,
Bangun
dengan perasaan sakit di dada,
Tidak
bisa tidur karena memikirkanmu, dan menunggu kabar darimu,
Menantimu,
terus menantimu dengan resah, namun kau tak kunjung datang,
Merasa
digantungkan,
Kehilangan
semangat hidup,
Merasa
kalau kamu orang yang berbeda dari yang pernah aku kenal saat kita
jauh,
Berusaha
mencintaimu dengan ikhlas, tanpa memikirkan kebutuhanku akan cintamu,
Sadar
kalau kamu tidak mencintaiku (lagi),
Kecewa
dan sedih atas kata-katamu yang menyalahkan keadaan tanpa sadar bahwa
keadaan itu kita yang buat dan kita juga yang bisa meluruskannya,
Bingung,
linglung, hilang, karena aku tidak pernah mengerti apa sebenarnya
yang menjadi masalah buatmu,
Memutuskan
untuk meninggalkanmu,
Tidak
bisa berpaling darimu,
Mencoba
menjalani hari dengan pengganti dirimu,
Tak
bisa lepas dari angan-angan tentangmu,
Mencoba
berpikir rasional bahwa kamu memang bukan untukku, tapi tak dapat
kupungkiri bahwa hatiku sangat menginginkanmu,
Sedih
saat bertemu denganmu, dan aku tak bisa memelukmu,
Sakit
menerima kenyataan bahwa selalu ada dia yang menemanimu, bukan
diriku,
Sedih
dan kecewa dengan perkataanmu yang menyalahkan perlakuanku yang kau
nilai tidak mau mengerti dirimu,
Bingung
mengartikan kata-katamu,
Menyalahkan
diriku sendiri,
Mencoba
bangkit dengan kesibukanku dan teman-temanku,
Mencoba
menjalani hari dengan penggantimu,
Berhasil
melupakanmu,
Sedih
lagi dengan gunjingan kamu dan teman-temanmu,
Sedih
dengan anggapan-anggapanmu tentangku,
Merasa
tidak aman dengan konsep dan lingkaran pertemananmu,
Lega
pada akhirnya kita bisa berdamai,
Berusaha
berpikir rasional, sampai aku menemukan bahwa kesalahan bukan padaku,
Menemukan
kembali semangat hidupku,
Mengikhlaskan
hatiku bahwa kamu memang bukan yang terbaik untukku, bahwa yang
terbaik untukku akan datang pada waktu yang tepat…
Dulu
saya pernah bilang, kalau saya memilih memahami cinta dengan
menikmatinya bukan dengan mengalami sakitnya… Hmm dari pengalaman
ini, saya masih berpendapat sama, karena pengalaman sakit hati saya
karena pumpkin tidak mengajarkan saya untuk memahami cinta, tapi
mengajarkan saya untuk lebih mengenal diri sendiri..